Kunci dasar menghafal Qur’an

Cara Mendidik Anak Agar Hafal Qur’an
01/10/2016
Karena Mental Blok
25/10/2016

Kunci dasar menghafal Qur'an dalah ikhlas

Kunci dasar Menghafal Qur;an

Kunci dasar menghafal Qurlan adalah Ikhlas

Kunci Dasar Menghafal Qur’an

Karena ini adalah Kunci Dasar, maka Kunci ini akan membuka kunci-kunci yang lainnya, Insyaa Allah! Maka dari itu kita harus sangat memahami dan menjiwai Kunci Dasar ini.

Kunci  Dasar Menghafal Qur’an    adalah “ikhlas”

Kata orang,

“Ikhlas itu susah”

“Ikhlas itu mudah”

“apakah dua-duanya benar?”

“Tetapi Allah mustahil menyusahkan hamba-Nya.”

Lakukan saja walau pun belum bisa ikhlas

Apakah harus nunggu ikhlas supaya kita melaksanakan shalat?…

Apakah harus nunggu ikhlas supaya kita melaksanakan zakat?…

Apakah harus nunggu ikhlas supaya kita melaksanakan puasa?…

Apakah harus nunggu ikhlas supaya kita melaksanakan haji?…

Lakukan saja karena Allah!

Apakah harus nunggu ikhlas untuk kita memulai menghafal Al-Qur’an?…

lakukan saja karena Allah tanpa menunggu!

Pertanyaanya, “Karena siapa kita melakukan hal itu?”

Maukah hal itu sia-sia karena tidak ikhlas?…

Ya sudah lakukan saja karena Allah.

Semoga Allah menilai ikhlas segala amal perbuatan kita. Aamiin.

Jangan berhenti beramal karena beralasan belum bisa ikhlas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah (Ridha) Allah. [HR Nasa’i].

Jadi Kunci dasar menghafal Qur’an itu adalah Ikhlas, dan Ikhlas  adalah pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala maka sepantasnya kita memohon kepada Allah agar senantiasa dimurnikan segala niat dalam beribadah hanya karena Allah Subhanahu Wata’ala tanpa dicampuri oleh menyekutukan dengan unsur-unsur lain yang merusak keikhlasan.

Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita untuk berdo’a dengan ungkapan:

“اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ”

“Ya, Allah. Sesungguhya kami berlindung kepada-Mu agar tidak menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui. Dan kami memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang kami tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan imam hadits lainnya).

Mengkhawatirkan hilangnya keikhlasan bukanlah dengan cara meninggalkan amal, tetapi dengan berjuang semaksimal mungkin MENYENGAJA untuk senantiasa memperbaiki niat karena mengharap Ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

Kalau kita bersungguh-sungguh mengerjakan amal shalih, mempelajari dan terus memperbaiki seluruh niat, Semoga Allah Ta’ala mengampuni yang telah terlalaikan dalam niat.

Mengkhawatirkan niat memudahkan-mudahkan bisa ikhlas dan memandangnya sebagai perkara yang tidak sederhana. Sesungguhnya kelak kita dikumpulkan sesuai niat. Ingatlah ketika Rasulullah saw. bersabda:

“يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى نِيَّاتهِمْ ”

“Sesungguhnya manusia dikumpulkan (di Padang Mahsyar) berdasarkan niat-niat mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Ibnul Mubarak mengingatkan, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi bernilai besar karena niat dan betapa banyak amalan besar yang menjadi bernilai kecil karena niat.”

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas merupakan intisari dari iman sehingga seseorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

Firman Allah, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Juga dalam ayat lain Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar).

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

“Ikhlas artinya kita berbuat dan melakukan apapun hanya dengan niat untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla, bukan untuk apapun dan bukan untuk siapapun.”

IKHLAS ADALAH KUNCI NOMOR 1 DALAM SELURUH IBADAH DAN MUAMALAH YANG KITA LAKUKAN.

MAKA PRAKTIK IKHLAS ADALAH KUNCI KEMUDAHAN MENGHAFAL AL-QUR’AN NOMOR SATU.

Kita sudah mengetahui bahwa Kunci dasar menghafal Qur’an adalah Ikhlas maka Jika kita ikhlas dalam menghafalkan Al-Qur’an maka ketika bertemu kesulitan apa pun akan tetap dijalani dengan senang hati penuh rasa syukur atas segala apa pun yang terjadi dalam proses menghafalkan Al-Qur’an.

Ketenangan batin biasanya akan hadir dalam pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan selama proses menghafal Al-Qur’an. Hati akan disibukkan oleh menghafal Al-Qur’an sehingga tidak sempat mengkritisi penyelenggaraan karantina tahfizh sebab percaya sepenuhnya bahwa Allah yang mengatur segalanya, apa pun yang terjadi.

Al-Qur’an itu sudah dijamin kemudahannya maka pada saat ikhlas menjalani proses menghafalkan Al-Qur’an dengan segala kemudahan yang Allah bukakan. Juga sisi ruhiyah keimanan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya bacaan dan hafalan yang berhasil disetorkan.

Banyak peserta karantina tahfizh yang kesulitan menghafalkan Al-Qur’an sejak awal-awal menghafal Al-Qur’an. Namun setelah berhasil melepaskan seluruh niat-niat selain karena Allah lalu kemudian Allah mudahkan bahkan diluar kesadaranya.

Jika sebelum ikhlas menghafal 1 halaman saja membutuhkan waktu antara 5 sampai 7 jam dan itu pun tidak lancar. Maka seiring keikhlasan meningkat banyak diantara peserta mampu menghafalkan 1 jam per halaman, 50 menit/halaman, 45 menit/halaman, 40 menit/halaman, 30 menit/halaman, 20 menit/halaman bahkan sampai 7 menit per halaman.

Tentu saja mengejar kecepatan dengan tergesa-gesa akan merusak keikhlasan sehingga bertambah lama dalam proses menghafalkan Al-Qur’an. Sebaliknya dengan menikmati tadabbur isi kandungan Al-Qur’an dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah maka dia akan diberikan kemampuan oleh Allah yaitu kecerdasan dan kecepatan menghafal Al-Qur’an.

Pada saat berhasil mengikhlaskan niat karena Allah maka inilah yang bisa kami analisa dari pengalaman 17 angkatan mendampingi 2400 orang peserta penghafal Al-Qur’an.

Berikut ini hal-hal yang dimodel dari orang-orang yang Allah bukakan kemudahan setelah berusaha memurnikan niat hanya karena mengharap Ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

  1. Orang ikhlas niat tujuannya hanya karena Allah sehingga Allah mudahkan prosesnya dan mereka tidak pernah berkeluh kesah juga tidak pernah mengeluh merasa terbebani dalam mencari Ridha Allah
  2. Hafalan Al-Qur’an bukan untuk pujian, jabatan dan hadiah duniawi sehingga tidak ada kejar target yang membebani namun dengan sendirinya target tercapai dengan ikhtiar yang menyenangkan
  3. Tidak merasa malu dengan pencapaian hari ini berapa pun jumlahnya terus semangat menghafal Al-Qur’an karena meyakini bahwa Allah menilai dari prosesnya dan hasilnya pasrahkan pada keputusan Allah
  4. Tidak merasa sombong dengan pencapaian hari ini sekalipun mampu mencapai lebih dari satu juz per hari karena semua itu atas kehendak dari Allah Subhanahu Wata’ala sebaliknya mereka diliputi rasa syukur atas karunia-Nya
  5. Hati terasa tenang dan kulit terasa begitu bergetar (sejenis merinding) ketika membaca dan menghafalkan Al-Qur’an
  6. Mudah menangis karena dimudahkan tadabbur Al-Qur’an sekalipun belum terlalu mengerti betul mengenai isi kandungan Al-Qur’an
  7. Merasa diberikan kemampuan kecerdasan oleh Allah yang tidak pernah dimiliki sebelumnya
  8. Merasa diawasi oleh Allah sehingga ketika menghafal sendiri dirinya dan hatinya merasa diperhatikan oleh Allah
  9. Proses sebulan menghafalkan Al-Qur’an terasa begitu cepat dan terjadi distorsi waktu karena begitu nikmatnya bersama Al-Qur’an
  10. Pasca karantina tahfizh akan senantiasa menjaga niat, sikap dan akhlak juga selalu menjaga hafalan Al-Qur’an dengan rajin muraja’ah rutin setiap hari

Demikianlah Kunci dasar menghafal Qur’an  yaitu kunci kemudahan yang dapat  dimodel dari mereka yang berhasil mengkhatamkan setoran hafalan Al-Qur’an 30 Juz di Yayasan Karantina Penghafal Qur’an Darul Hasanah maupun Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional.

Harapan kita semoga sejak awal peserta sebelum masuk karantina tahfizh antara KEMAMPUAN TAHSIN dan MEMURNIKAN NIAT menghafalkan Al-Qur’an SUDAH BAGUS sehingga memudahkan proses menghafalkan Al-Qur’an.

Mungkin Anda telah berfikir untuk mendaftarkan diri Anda di www.parapenghafalquran.com atau hanya untuk mencari info lebih lanjut sebelum memutuskan untuk daftar. Silakan!… Bismillahirrahmanirrahim!

Semoga Allah karuniakan keikhlasan pada kami, guru-guru kami dan orang-orang yang senantiasa mengharap Ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiin.

Yadi Iryadi
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Master Coach Hypnotahfizh
Praktisi Neuro-linguistic Programming
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
www.hafalquransebulan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *