Cara Mendidik Anak Agar Hafal Qur’an

Nikmatnya Menghafal Qur’an
29/09/2016
Kunci dasar menghafal Qur’an
02/10/2016

Bismillahirrahmanirahim…

Cara mendidik anak agar hafal Qur’an.

Bagaimana Praktisi NLP Memodel “Musa Hafizh Cilik”?…..

Dengan terus memuji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, saya memulai menulis ini semoga mendapat pertolongan dari AllahSubhanahu Wata’ala untuk mempraktikannya karena saya ingin supaya anak saya bisa hafal Al-Qur’an 30 Juz sejak usia anak-anak seperti Musa Hafizh Cilik.

Apakah Anda juga demikian?….

Hmm….Silakan!

Dan untuk itulah, Anda memutuskan untuk membaca lengkap tulisan ini atau Anda membagikannya supaya manfaat bagi generasi Islam. Dan itu keputusan Anda sekarang!..

Mari kita amati cara mendidik anak agar hafal Qur’an. Telah kita ketahui bersama bahwa Musa Hafizh Cilik hafal Al-Qur’an 29 juz pada usia 5,5 tahun Juara I Hafiz Indonesia di RCTI dan juga ikut lomba Tahfizh Internasional 2016 juara ke-3. Sekarang Musa sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz. Semoga Allah berkahi seluruh keluarganya dengan Al-Qur’an. Aamiin.

Menurut saya, Lomba Tahfizh adalah baik dan niatnya adalah untuk syiar agama Allah. Namun di sini, saya tidak bermaksud agar anak saya jadi Juara lomba melainkan ingin supaya anak saya dan anak Anda juga tentunya hafal Al-Qur’an 30 Juz niat karena Allah subhanahu Wata’ala saja, selebihnya apa pun yang terjadi serahkan pada Allah dan berlindung pada Allah dari godaan syetan yang tugas mereka mengganggu manusia.

Itu muqaddimahnya..

Sekarang saya siap berguru pada ustadz cilik Musa Al-Hafizh dan orang tuanya melalui informasi-informasi yang saya lihat dari youtube dan berita-berita di Internet kemudian saya kodekan langkah-langkahnya menggunakan ilmu NLP praktis versi saya agar dapat dipahami dan dijalankan oleh para pembaca dengan cara yang aplikatif, mudah dan menyenangkan.

Telah diketahui sekarang bahwa NLP (Neuro Linguistik Programming) adalah ilmu memodel keunggulan manusia agar dapat dikodekan pada diri sendiri dan kode tersebut dapat dijalankan serta diterapkan pada siapa pun dengan pengkondisian tertentu menggunakan pola-pola yang terstruktur, berurutan dan dapat diduplikasi dengan cara yang sederhana, mudah, menyenangkan dan prosesnya lebih singkat jika dibandingkan dengan cara biasa. Hmm…Enak tenan…

“Apakah Anda masih berpendapat bahwa fenomena “Musa Hafizh Cilik” adalah anak mukjizat yang tidak dapat diduplikasikan pada anak-anak normal lain termasuk anak Anda?…”

“Apakah Anda masih berpendapat bahwa anak Anda tidak akan bisa seperti Musa yang hafal Al-Qur’an 30 Juz apalagi melampaui prestasinya?…”

“Apakah Anda masih yakin itu tidak mungkin?….”

Mari kita gunakan asumsi yang lebih berdaya bahwa:

“Jika ada di dunia ini orang yang mampu mencapai suatu keberhasilan kemudian Anda menirunya 100% kemudian Anda modifikasi sesuai dengan kondisi yang memungkinkan untuk tetap mencapai tujuan itu maka Anda akan 100% berhasil.”

Memang benar Al-Qur’an merupakan mukjizat, sedangkan fenomena Musa adalah anak yang dididik secara alami oleh orang tua dan lingkungannya melalui indra Visual, Auditory, Kinestetik, Olfactory dan Gustatory dalam lingkungan yang memungkinkan untuk bisa hafal Al-Qur’an 30 Juz pada masa anak-anak.

Kita akan mempelajari dan tiru 100% apa yang biasa Musa lihat (Visual)
Kita akan mempelajari dan tiru 100% apa yang biasa Musa dengar (Auditory)
Kita akan mempelajari apa dan tiru 100% apa yang biasa Musa lakukan (Kinestetik)
Kita akan mempelajari apa dan tiru 100% apa yang biasa Musa makan (Gustatory)
Kita akan mempelajari apa dan tiru 100% parfum apa yang biasa mereka gunakan?… (Olfactory)

Mungkin ini terkesan aneh?…

Tak apa-apa, sebenarnya tidak harus 100%, Anda boleh melakukannya 110% misalnya.

Namanya juga kita sedang memodel seseorang yang akan kita duplikasikan pada diri sendiri dan orang lain yang dalam hal ini adalah anak saya dan anak Anda. Pastikan bahwa Anda tidak melewatkan hal yang esensi dari model Anda. itu salah satu cara mendidik anak agar hafal Qur’an.

Saya ulangi:

Apakah Anda siap meniru Musa dan keluarganya untuk tujuan supaya Anda dan anak Anda bisa hafal Al-Qur’an?….

Ya, Siap 150%!… Insyaa Allah.

Koq 150%?….

Justru jangan 100%, sebab kita sedang memodel dan bukan mengkloning…

Sah-sah saja jika Anda menirunya 200% atau pun 300% bahkan Anda berfikir ingin lebih?…

Ingat, bahwa setiap orang pengalaman hidupnya berbeda-beda sehingga esensi-esensi yang mendasari mampu menghafal Al-Qur’an 30 Juz di usia anak-anak itulah yang kita model dan amplify(perkuat, perbesar) sehingga bahkan kemampuan hasil memodel memungkinkan melebihi sang model.

Siap-siap meneladani mereka sama juga dengan memodel mereka dan Anda pun akan seperti mereka namun dalam keadaan yang berbeda tentunya tetapi tetap sama yaitu “Hafal Al-Qur’an 30 Juz” atas kehendak Allah Subhanahu Wata’ala.

“Menurut ayah Musa, Ibunda Musa merupakan sosok yang sangat sederhana dan sangat kuat, waktu tidurnya sangat sedikit, bahkan hampir seperti tidak pernah tidur baik siang maupun malam.”

Saya siap mulai sekarang dan seterusnya untuk memodel seperti ibunya Musa?….

 “Ibunda Musa mengatur pekerjaannya dan mengajar Musa.”

Saya siap mengatur jam kerja dan mengajar ngaji anak saya.

“Ibunya Musa hanya berhenti dan beristirahat apabila sakit, itu pun sakit yang sangat besar. Pernah suatu saat Ibunda Musa istirahat setelah tubuhnya demam tinggi yang mengaruskan dirinya harus istirahat total.”

Saya pun telah komitmen untuk melakukannya untuk hafalan saya dan anak saya.

Berikut ini rangkaian jadwal yang dibuat oleh Sang Ibunda Musa yang secara Istiqomah dilakukan tiap harinya:

“Jam 02.30 pagi sudah bangun kemudian wudhu dan langsung muroja’ah di depan Abinya sampai jam 04.00 pagi.”
“Kemudian menambah hafalan barunya dan menyetorkannya sampai Adzan Subuh berkumandang. Kemudian di stop untuk sholat.”
“Selesai sholat langsung tambah hafalan dan stok sampai jam 07.30 pagi, kemudian istirahat (sarapan, minum dan main) sampai jam 8.30.”
“Kemudian muroja’ah sampai jam 10.00 atau 10.30 memperhatikan maju mundurnya waktu sholat.”
“Jam 10.00 atau 10.30 wajib tidur sampai Adzan Dzuhur berkumandang, kemudian ke masjid.”
“Setelah sholat, tambah hafalan baru dan stok sampai jam 13.30 siang, kemudian istirahat dan makan siang sampai jam 14.00 siang. Kemudian muroja’ah sampai Ashar.”
“Setelah Ashar, tambah hafalan baru dan muroja’ah sampai jam 17.00 sore.”
“Kemudian main sebentar dan umumnya menyiapkan untuk pergi ke mesjid sholat Maghrib”
“Setelah Maghrib muroja’ah sampai Isya’ dan makan malamnya setelah sholat Isya’, terkadang muroja’ah sampai mendekati waktu Isya dan langsung makan malam, (baru sholat Isya’ -red).”
“Setelah sholat Isya’ harus tidur.”
“Tiap 4 atau 5 hari dia libur. Pada hari libur tersebut, Musa full bermain.”

Wuuush….. Berat banget?….

Akan dirasakan berat oleh mereka yang di luaran sana tidak sungguh-sungguh dan akan terasa menyenangkanbagi Anda yang bersungguh-sungguh ingin hafal Al-Qur’an dan anak Anda juga hafal Al-Qur’an 30 Juz.

Mari kita sederhanakan langkah esensinya apa yang di lihat oleh Visual, didengar oleh Auditory, dilakukan oleh Kinestetik dan bahkan dirasakan oleh Olfactory (hidung) dan Gustatory (pengecapan).

Kondisi lingkungan Musa si Hafizh cilik:

  • Orang tuanya saling setoran hafalan Al-Qur’an di depan anak sejak pagi
  • Jadwal menghafal dan muraja’ah orang tua di depan anak secara istiqomah
  • Orang tua mencontohkan anak untuk shalat berjama’ah di masjid
  • Istirahat dan makan secara teratur
  • Ada waktu khusus belajar menghafal Al-Qur’an dan bermain
  • Ada waktu liburan setiap jeda 5 hari supaya bisa bermain seharian
  • Orang tua dan anak setelah shalat Isya harus tidur istirahat supaya bisa bangun pagi

OK Belum cukup sampai di sini…

Mari kita lihat bagaimana keadaan pikiran dan perasaan Musa ketika orang tuanya melakukan hal demikian!

  • Apakah Anda memaksa anak Anda atau Anda mengkondisikan sedemikian rupa sehingga anak Anda meminta untuk hafalan Al-Qur’an bersama Anda?….
  • Apakah yang menjadi keyakinan orang tua Musa sama dengan apa yang Anda yakini mengenai tahfizh Al-Qur’an?…. Mereka senang membaca Al-Qur’an dan Anda pun demikian sama.
  • Apakah anak Anda sudah lebih merasa nyaman mendengar suara Al-Qur’an?….
  • dan silakan tambahkan lagi, silakan cacah sedemikian rupa sedetail-detailnya proses pemikiran dan perasaan orang tua Musa saat mendidik anaknya.
  • Jika Anda bertemu orang tua Musa, silakan tanyakan hal-hal psikologis yang mendasarinya untuk mengajarkan Al-Qur’an
  • Bisa juga diamati dan ditiru Neuro Logical Level misalnya seperti: Niat, Motivasi, perasaan dengan identitas hafizh, Keyakinan, Kemampuan dan Lingkungan yang dibutuhkan supaya bisa membuat diri orang tua dan anak hafal Al-Qur’an 30 Juz dalam waktu masih anak-anak.
  • Tepatnya apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan oleh mereka, tiru semua esensinya.

Mari kita lihat modelling ala ilmu NLP praktis tanpa teori berbelit-belit.

Sebuah proses modelling memiliki 3 tahap, orang mengatakan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Rumus ini modifikasi penyederhanaan proses dari NLP tapi bukan NLP:

Amati

Tahap ketika kita bersama orang yang dijadikan model sementara ia melakukan perilaku yang ingin kita jadikan model.

Pada tahap ini, kita benar-benar berusaha masuk ke dalam model dunia sang model, merasakan menjadi dirinya, sehingga menemukan bagaimana persisnya ia memunculkan perilaku ekselen tersebut di dalam pikiran dan perasaannya.

Tahapan ini  persis dengan apa yang dilakukan anak kecil.

Bukankah mereka biasa melakukan apa yang orang dewasa lakukan dan entah sejak kapan mereka tiba-tiba mampu menirunya? Untuk memudahkan proses ini, anda dapat menggunakan teknik perseptual position, yaitu dengan berada pada posisi.

Dalam tujuan ini Anda bisa berperan sebagai apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang tuanya Musa dan oleh Musa itu sendiri. Pikirkan dan rasakan sebagaimana mereka melakukannya dan Anda pun benar-benar melakukannya.

Tiru
Amati apa yang persisnya mereka lakukan (perilaku dan gerakan tubuh), temukan bagaimana mereka melakukannya (representasi internal dan urutannya), serta mengapa mereka melakukannya (keyakinan yang mendukung), yang belakangan ini amat penting, sebab sebuah keyakinan memiliki daftar perilaku yang didukungnya. Tentu Anda sepakat bahwa orang tua Musa tidak mungkin memiliki keyakinan bahwa menghafal Al-Qur’an itu susah. Dan pastinya mereka melakukannya dengan keyakinan mudah dan menyenangkan sehingga mereka terus melakukannya.

Modifikasi
Hal berikutnya yang perlu diperhatikan dalam modelling yaitu kita memodel seseorang, bukan menjadi kloningan orang itu. Sehingga kita mungkin tidak persis sama suksesnya dengan model kita. Bisa tidak sesukses dia atau malah bisa jauh melampaui kesuksesan yang dia capai. Melakukan modifikasiitu harus tetapi tetap mengarah pada tujuan utama yaitu dalam hal ini untuk tujuan “Anda dan anak Anda hafal Al-Qur’an 30 Juz”.

Berikutnya proses yang sangat penting dalam modelling yaitu kita mencoba menghapuskan sebuah langkah, atau merubah urutannya. Jika tidak ada perbedaan signifikan pada hasil, maka berarti langkah tersebut tidak penting. Sebaliknya, ketika Anda menemukan perbedaan hasil yang signifikan, berarti dia adalah elemen yang penting.

Apakah Anda telah mendapatkan pencerahan?….

Apakah Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan bisa di-Amati, di-Tiru dan di-Modifikasi?….

Hmm… bisa saja, tetapi Anda masuk pada ranah yang berbeda dalam dunia akselerasi tahfizh sehingga akan banyak try & error yang membutuhkan waktu, biaya dan kerja keras yang luar biasa.

Saya bersama ustadz Ma’mun Al-Qurthuby, S.Pd.I Al-Hafizh sudah melakukan penelitian sejak tahun 2006 – 2014 dilanjutkan didampingi DR. Ahsin Sakho Muhammad, MA Al-Hafizh 2014 – 2016 diaplikasikan dalam proses percepatan Hafal Al-Qur’an Sebulan. Hasilnya alhamdulillah banyak peserta yang mampu meningkatkan kualitas tahsin membaca Al-Qur’an, banyak yang hafal 15 juz, 20 juz, 25 juz dan 30 Juz dalam waktu sebulan bahkan 30 Juz kurang dari sebulan. Cara yang paling mudah untuk meng-ATM Karantina Tahfizh adalah dengan Cara menjadi Mitra Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional  1 hari pelatihan full.

Insyaa Allah kami akan duplikasikan berbagai sistem yang sudah terbukti dan teruji pada 16 Angkatan di tahun 2016 ini.

Kembali lagi, itu lah Cara Mendidik Anak Agar Hafal Qur’an  dan itu  cara sederhana memodel Musa adalah dengan cara meniru bagaimana mereka berfikir dan langkah-langkah bertindak dengan esensi sedetail-detailnya dalam mencetak penghafal Al-Qur’an 30 Juz di usia anak-anak. Jika Anda bertemu dengan Musa dan keluarganya, salam dari kami Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional. Saya, Yadi Iryadi belum tahu apa-apa dan ingin banyak belajar dari ustadz Musa.

Mari kita buat seluruh keluarga muslim minimal satu hafizh dan hafizhah Indonesia 2030. Anda pasti bisa!… Kita semua bisa!… Insyaa Allah.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina II Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner of Neuro Linguistic Programming

www.parapeghafalquran.com

Cara Mendidik anak Agar Hafal Qur'an

Cara Mendidik Anak Agar Hafal Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *